Minggu, 21 April 2013

Naik lagi... Naik lagi...

Harga bawang belum juga turun kemudian disusul harga Cabe jadi kayak balapan aja (ato terinspirasi MotoGp Rossi sudah gabung di Yamaha lagi?). Ga mau kalah Listrik juga akan menyusul kenaikkan 2 bahan dapur tersebut. Dan yang terakhir akan bergerak naik adalah BBM. 

Kenaikkan BBM dari dulu alasannya untuk mengurangi subsidi, tapi yang bisa ngerasain uang dari pengurangan subsidi tersebut siapa ??? fakta dilapangan agak sulit ditemukan. Kesejahteraan Rakyat belum terdongkrak dengan pengurangan Subsidi BBM tersebut. Setiap kali issu kenaikkan BBM ini beredar, harga bahan pokok sudah pasti merasa berhak untuk menaikkan harga dirinya dengan alasan biaya transportasi juga naik. 

Rencana Pemerintah akan memberlakukan 2 harga Premium Rp 4500 (subsidi penuh) dan Rp 6500 (setengah subsidi) yang akan di jual SPBU berbeda. Pengguna Premium subsidi penuh terutama angkot apak tidak akan menaikkan tarif angkutannya? Dengan alasan harga bahan pokok naik dan harga barang2 kebutuhan sehari - hari hasil produksi Industri besar naik, tentu saja Harga Angkot juga ga mungkin jalan di tempat.

Sebelum (tepatnya lupa lagi tapi masih dalam 5 tahun) ini juga pernah ada rencana kenaikkan BBM yang tapi akhirnya ga jadi karena banyak demo tapi harga bahan pokok sudah sempet naik. Batalnya kenaikkan BBM tersebut tidak serta merta menurunkan harga bahan pokok yang sudah kadung naik tersebut. Yang menjadi korban tentulah masyarakat kecil yang berpenghasilan rendah. Kenaikkan harga BBM ini tentu sangat mengganggu ketenangan Bathin masyarakat, dengan Berulang ulangnya kenaikkan BBM berulang pula gangguan terhadap ketenagan bathin masyarakat ini.

Sempet Saya berfikir gejolak (rasa gelisah/gusar) di masyarakat kebanyakan ini kenapa tidak bisa dibuat sederhana jika memang tidak bisa di tiadakan. Maksud Saya adalah jika ingin menaikkan Harga BBM dan lain - lain yang akan menyebabkab kenaikkan harga bahan pokok, maka dibuat perhitungan dan keputusan dalam 1(satu) kali kesempatan jangan kejadian berulang dalam masa yang sangat singkat. Jadi 1 (satu) kali kenaikkan dan menyebabkan efek domino ke harga - harga yang lain akan terjadi dalam 1 kurun waktu saja dan dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian rasa susah yang di rasakan oleh masyarakat itu cuma sekali. Ibarat Dokter mau nyuntik pasien cukup dengan satu kali suntik dengan biaya yang mahal karena obatnya bagus tapi hasilnya mantap dibanding dengan obat murah tapi harus dateng berulang ulang. Jatohnya juga mahal ,ya capek juga bolak balik.

Jika maksud ingin mengurangi beban APBN dengan mengurangi Subsidi mungkin ada cara lain juga untuk dilakukan pemerintah yaitu dengan mengurangi Belanja Pegawai, Mengurangi (bahkan meniadakan) KUNKER anggota Dewan Terhormat ke Luar negeri yang makan biaya besar dan yang paling krusial bersihkan semua jajaran Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif dari bacteri yang namanya KORUPSI. Korupsi di Bumi Indonesia ini sudah di Stadium 5 , Very very chronic. Bacteri itu akan mati dengan obat Hukum yang Adil tidak miring sebelah.

'Kalo ingin lantai bersih, menyapu lantai menggunakan Sapu yang Bersih.'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar